Batik Canteng Sumenep Karya Warga Binaan Pemasyarakatan Tembus Nasional, Pernah Diperagakan Putri Indonesia di Bali

Infrastruktur1084 Dilihat

SUMENEP, Bongkar86.com – Program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Kabupaten Sumenep terus berjalan hingga September 2026. Program tersebut dilaksanakan sejak adanya instruksi resmi dan berlanjut di bawah kepemimpinan Kepala Rutan Kelas IIB Kabupaten Sumenep “Aditya Wahyu Rahmadani” saat ini, Rabu, (2/9/2026).

Salah satu program yang menjadi bagian dari pembinaan tersebut adalah pelatihan keterampilan berbasis potensi lokal. Batik tulis menjadi salah satu produk unggulan yang dikembangkan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) hingga mampu menembus tingkat nasional.

Kepala Rutan Kelas IIB Kabupaten Sumenep “Aditya Wahyu Rahmadani” mengatakan, hasil pembinaan batik tulis tersebut tidak hanya diproduksi untuk kebutuhan internal, tetapi juga telah mendapat kesempatan tampil dalam ajang pameran di Bali. Bahkan, produk Batik Canteng Sumenep pernah diperagakan oleh Putri Indonesia dalam kegiatan tersebut.

“Untuk kegiatan kemandirian seperti batik tulis, pencapaiannya sudah menembus tingkat nasional. Produk Batik Canteng Sumenep ini bahkan pernah diperagakan oleh Putri Indonesia pada ajang pameran di Bali,” ujar Aditya Wahyu.

Selain batik tulis, pembinaan keterampilan juga dikembangkan melalui kerajinan miniatur bonsai. Produk tersebut sempat dilombakan secara internal antarsesama WBP dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.

Ke depan, hasil kerajinan miniatur bonsai tersebut akan diarahkan untuk dipamerkan dan dikembangkan melalui sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah itu ditujukan agar keterampilan yang diperoleh WBP dapat memiliki nilai ekonomi dan menjadi salah satu sumber penghasilan setelah mereka kembali ke masyarakat.

“Aditya Wahyu Rahmadani” menjelaskan, pembinaan keterampilan tersebut dipersiapkan sebagai bekal bagi Warga Binaan setelah menyelesaikan masa pidana. Keterampilan diharapkan dapat digunakan untuk bekerja, meningkatkan perekonomian, sekaligus mendukung proses reintegrasi sosial.

Dalam memastikan pembinaan tetap berlanjut setelah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) memperoleh program integrasi seperti Pembebasan Bersyarat (PB) atau asimilasi, Lapas Sumenep berkolaborasi dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Pamekasan. WBP yang telah bebas selanjutnya berada dalam naungan dan bimbingan Bapas Pamekasan melalui program penanganan pascabebas.

Sementara itu, untuk program magang WBP di industri maupun instansi luar, hingga September 2026 belum terdapat WBP dari Sumenep yang mengikuti program tersebut. Koordinasi terkait rencana tersebut akan dilakukan lebih lanjut antara Bapas dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di wilayah Madura. (Ucik/Yitno)

Komentar