Pompanisasi Jadi Solusi Atasi Kekeringan Sawah di Tengah El Nino

Infrastruktur616 Dilihat

Cirebon, Bongkar86.com – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan pompanisasi dan penguatan jaringan irigasi menjadi solusi untuk mengalirkan air ke persawahan yang masih terdampak kekeringan. Hal ini buntut fenomena El Nino yang berlangsung panjang.

Hal itu disampaikan Dody seusai meninjau kondisi empat titik persawahan di Bekasi dan Cirebon, Jawa Barat, Sabtu 26 September 2026. “Sumber airnya ada, sungai, dan sungai itu enggak kering juga,” kata Dody dikutip Minggu 27 September 2026.

Menurutnya, persoalan kekeringan di sejumlah lahan pertanian tidak selalu disebabkan ketiadaan sumber air. Masalahnya, air dari sumber yang tersedia belum dapat tersalurkan hingga ke lahan pertanian.

Dalam kondisi tersebut, air sungai dapat dipompa dan dialirkan menuju saluran irigasi sekunder maupun tersier sehingga bisa menjangkau sawah. Salah satu kondisi itu ditemukan di Desa Kedongdong, Cirebon.

Dody mengatakan posisi sumber air di kawasan tersebut lebih rendah dibandingkan persawahan sehingga air tidak dapat dialirkan secara gravitasi. Karena itu, pompa bertenaga listrik dinilai dapat menjadi pilihan. Terlebih, jaringan listrik tersedia di sekitar lokasi.

“Kalau di situ saya lihat banyak tiang listrik, jadi bisa pakai listrik. Pasang saja pompa yang bertenaga listrik,” ujarnya.

Air yang dipompa kemudian dapat disalurkan melalui pipa menuju saluran sekunder yang telah tersedia. Sementara jaringan tersier yang membawa air lebih dekat ke lahan pertanian masih perlu dibangun.

Dody menyebut pembangunan saluran tersier sederhana dapat dilakukan dengan melibatkan para petani. “Ajak petani itu bikin bersama-sama. Murah itu, enggak mahal,” katanya.

Dengan skema pompanisasi dan penguatan jaringan irigasi tersebut, Dody memperkirakan hampir 400 hektare sawah di kawasan Kedongdong dapat memperoleh pasokan air. “Hampir 400 hektare bisa dialiri dengan mudah,” ucapnya.

Untuk penanganan jangka panjang, Dody mengatakan pembangunan sumur bor maupun embung dapat dipertimbangkan di wilayah yang terus mengalami kesulitan mendapatkan aliran air. Khusus kawasan sekitar 400 hektare di Desa Kedongdong, misalnya, dua atau tiga sumur bor dapat menjadi salah satu pilihan.

Alternatif lainnya adalah pembangunan embung jika tersedia lahan yang memadai. Namun, Dody menegaskan pilihan penanganan permanen masih perlu dikaji berdasarkan kondisi setiap wilayah.

“Kalau strategi ke depan memang kita perlu waktu untuk mengkajinya lebih dalam lagi,” ujarnya. Kementerian PU mencatat hingga 24 September 2026 penanganan kekeringan telah dilakukan di 3.288 lokasi secara nasional.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 358 lokasi berada di area persawahan. Penanganan di sektor pertanian itu mencakup sekitar 141.440 hektare sawah.

Adapun langkah yang dilakukan Kementerian PU meliputi pemompaan air sungai menuju sawah, normalisasi saluran irigasi utama dan sekunder, pembuatan saluran darurat, pengaturan giliran air, optimalisasi saluran, hingga pemasangan pipa.

Komentar