SUMENEP Bongkar86.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di wilayah Madura, khususnya Kabupaten Sumenep, untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Hal ini dipengaruhi dinamika atmosfer yang saat ini memunculkan tiga bibit siklon di sekitar wilayah Indonesia.
Observer on Duty Stasiun Meteorologi Trunojoyo Madura, Lavia Farareta, menjelaskan bahwa keberadaan bibit siklon tersebut berpengaruh terhadap kondisi cuaca di sejumlah wilayah, termasuk Madura.
“Dari informasi dinamika atmosfer dari BMKG, saat ini terdapat tiga bibit siklon yang mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia, termasuk wilayah Madura,” ujar Lavia saat diwawancarai.
Ia menyampaikan, dalam tujuh hari ke depan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat yang dapat disertai angin kencang di berbagai wilayah di Madura, terutama Kabupaten Sumenep.
“Untuk saat ini kami memberikan peringatan dini bahwa sekitar tujuh hari ke depan masih terdapat potensi terjadinya hujan lebat dan juga angin kencang di wilayah Madura, termasuk seluruh wilayah Sumenep,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya mengimbau masyarakat agar rutin memantau informasi resmi cuaca dari BMKG guna mengetahui perkembangan terbaru terkait potensi cuaca ekstrem.
“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu memperhatikan informasi yang kami sampaikan, terutama melalui media sosial BMKG. Biasanya kami mengupdate informasi terkait warning cuaca ekstrem melalui kanal tersebut,” katanya.
Lebih lanjut, Lavia mengungkapkan bahwa musim hujan tahun ini diperkirakan berlangsung sedikit lebih panjang dibandingkan biasanya. Namun dalam waktu dekat wilayah Madura diprediksi mulai memasuki masa peralihan atau pancaroba.
“Untuk tahun ini memang musim hujan diperkirakan sedikit lebih panjang. Namun dalam waktu dekat akan mulai memasuki masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau. Musim kemarau diperkirakan mulai berlangsung sekitar bulan April,” terangnya.
Pada masa transisi tersebut, karakteristik cuaca umumnya cenderung tidak menentu. Hujan dapat terjadi secara tiba-tiba di wilayah tertentu dengan intensitas cukup deras, namun tidak merata di seluruh daerah.
“Biasanya pada masa transisi hujan bersifat sporadis, artinya terjadi di wilayah yang relatif kecil, misalnya hanya beberapa desa saja. Hujannya bisa turun cukup deras tapi berlangsung singkat dan tidak mencakup wilayah yang luas,” jelasnya.
Selain hujan deras, masa pancaroba juga berpotensi memunculkan fenomena cuaca ekstrem seperti angin kencang, kilat dan petir, bahkan potensi angin puting beliung.
“Karakteristik cuaca saat transisi itu biasanya disertai potensi angin kencang, kilat dan petir, bahkan ada kemungkinan terjadi angin puting beliung di beberapa wilayah,” tambahnya.
Meski demikian, pihak BMKG menegaskan bahwa secara umum kondisi atmosfer saat ini masih dalam kategori normal. Fenomena cuaca ekstrem yang cukup besar sebelumnya lebih banyak terjadi di wilayah Sumatera.
“Untuk kondisi saat ini masih tergolong normal. Fenomena yang cukup besar sebelumnya memang lebih banyak terjadi di wilayah Sumatera,” pungkasnya.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama bagi nelayan, petani, serta warga yang beraktivitas di luar ruangan.(Cik/Rud/Apo)







Komentar