Panen Raya Jagung Hibrida, Bupati Busyro Ajak Petani Merubah Pola Pikir

1
585
Kiri Bupati Sumenep, Busyro Karim bersama Dirjen Tanaman Pangan Kementrian Pertanian RI, Dr. Ir. Sumarto Gatot Irianto kemeja putih kanan

Sumenep, Bongkar86.Com – Bupati Sumenep Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si mengajak petani di Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur, mengajak untuk merubah pola pikir bertani. Yakni dari sebelumnya bertani hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan memasak untuk keluarga saja. Namun juga untuk menjadikan bertani sebagai bisnis.

“Masyarakat petani Sumenep harus merubah pola pikir, dari bertani yang hanya untuk dimasak, melainkan bertani selain hasil panennya dibuat makan juga sebagai bisnis menjual hasil panen dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidupnya,” ungkapnya Bupati Busyro Karim saat acara panen Raya Jagung Program Kemitraan Pengembangan Jagung Hibrida dan Gerakan Tanam Serentak Kedelai di Kabupaten Sumenep, di Desa Sentol Daya, Kecamatan Pragaan, Rabu (28/02/2018).

Menurutnya, langkah yang telah dilakukan salah satunya, yakni penanaman jagung di Sumenep dari semula petani menanam jagung lokal saja, namun sejak tahun 2017 juga menanam varietas jagung hibrida.

Ditambahkan perubahan tanam jagung tersebut perlu lahan tanam, agar tanaman varietas jagung hibrida lebih luas supaya hasil penjualan panen jagungnya menguntungkan petani.

“Luas tanaman varietas jagung hibrida itu sebesar 70 persen dan varietas jagung lokal 30 persen, dengan harapan produksi jagung di Kabupaten Sumenep penyumbang terbesar produksi jagung bagi Jawa Timur mencapai 30 persen, bisa bertambah prosentase menjadi 80 persen, sehingga nantinya mampu menjadi Kabupaten penyumbang hasil produksi jagung terbesar secara Nasional,” imbuhnya.

Ditambahkan, pengembangan jagung hibrida di Kabupaten Sumenep dilaksanakan melalui beberapa program, antara lain kemitraan seluas 18.442 hektar, kegiatan fasilitasi penerapan budidaya jagung sebesar 4.500 hektar, perluasan areal tanam jagung (PLTJ) APNM-P Jawa Timur seluas 4.625 hektar, program integrasi jagung hibrida di lahan perkebunan APBN-TP Provinsi Jawa Timur seluas 1.600 hektar.

Total lahan pengembangan jagung hibrida di Kabupaten Sumenep mencapai 29.167 hektar, dengan perkiraan produksi sebanyak 145.835 ton pipilan kering. Bahkan petani mendapat fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BNI 46 sebanyak 7.196 orang, dengan total nilai Rp. 16.013.845.000.

“Dalam mendukung proses pemasaran hasil petani, BNI 46 Cabang Sumenep juga memberikan bantuan pinjaman modal melalui program KUR kepada TNI/Babinsa di 6 Kecamatan senilai Rp 500 juta. Termasuk pembelian hasil panen jagung oleh Babinsa dari petani, sampai saat ini terkumpul 105 ton pipilan kering, dari 6 wilayah Kecamatan,” tandasnya.

Sementara Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Dr. Ir. Sumarjo Gatot Irianto, MS, DAA menambahkan, produksi jagung petani Kabupaten Sumenep sangat bagus, hanya saja dalam pola budidaya jagung harus berubah, karena biayanya sangat mahal.

Menurutnya, jika produksi jagungnya bagus sekali, namun saya minta budidaya jagungnya lebih murah, sehingga dampaknya kepada pendapatan hasil panennya petani semakin bertambah. Karena itu diharapkan Pemerintah Kabupaten Sumenep menyiapkan lahan pertanian untuk tanaman kedelai seluas 100.000 hektar, dalam rangka mengembangkan tanaman dan produksi kedelai di Bumi Sumekar ini.

“Kami menginginkan petani Sumenep tidak hanya menanam padi dan jagung saja, namun ada kombinasi tanam, yakni jagung dikombinasi dengan padi, dan jagung juga dikombinasi dengan kedelai, supaya petani tidak merugi apabila salah satu tanaman itu gagal panen,” tandasnya.

Untuk itu dia berharap Pemerintah Daerah segera menyiapkan lahan 100.000 hektar untuk tanaman kedelai dalam waktu dekat, agar penanaman kedelai bisa dilaksanakan secepatnya, sehingga petani bisa menikmati hasil panen kedelainya. Untuk itu Pemerintah Daerah harus secepatnya menyiapkan lahan tanam seluas 100.000 hektar di wilayah Kabupaten Sumenep. Jadi, secara tegas saya katakan, ini bukan teori saja, tapi langsung saja dikerjakan Pemerintah Daerah.

“Kami sudah berkomunikasi dan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk membeli hasil panen kedelai petani, sehingga Pemerintah Daerah tidak perlu khawatir dengan penjualan produksi kedelai petani,” tambahnya.

Karenanya Dirjen meminta untuk tanam dulu kedelainya, karena pihaknya sudah bersurat ke sejumlah pihak, seperti rumah sakit, Sekolah Pendidikan Polri dan TNI yang memang membutuhkan kedelai, supaya membeli kedelai dari petani.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sumenep, Ir. Bambang Heriyanto, M.Si menambahkan, pada langkah awal pihaknya menginventalisir lahan untuk menanam kedelai, sekaligus mensosialisasikan kepada petani untuk menanam kedelai, selain padi dan jagung di lahan pertaniannya.

“Kalau lahan memang potensi untuk tanaman kedelai, namun kami perlu sosialisasi kepada petani, agar petani di Sumenep berminat menanam kedelai. Untuk saat ini saja, tanaman kedelai di Sumenep seluas 18.700 hektar yang merupakan program pemerintah melalui APBN-P 2017,” pungkasnya.(Apo)

1 KOMENTAR

  1. Untuk pemasaran penjualan petani juga d perhatikan…krn petani sering d permainkan tengkulak/pedagang.terimakasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here