Dinkes Sumenep Terus Sosialisasikan Gizi Buruk Pada Anak

0
566

Bongkar86.com – Salah satu faktor penyebab gizi buruk pada anak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, bukan semata karena teknis medis, melainkan lebih dipicu oleh faktor nonteknis seperti lingkungan dan perilaku masyrakat. Sepanjang aspek nonteknis itu belum tertangani dengan baik, maka gizi buruk akan terjadi.

Kabid Kesmas Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep, Kusmawati mengatakan, dari beberapa kasus gizi buruk yang ia jumpai di Kabupaten Sumenep, mayoritas disebabkan oleh lingkungan dan pola asuh pada anak yang kurang baik.

Menurutnya, selama ini banyak balita dibesarkan di lingkungan kurang bersih dan tercemar asap. Sehingga kondisi yang kurang baik itu mengakibatkan pertumbahan anak kurang maksimal, baik secara fisik maupun mental

“Banyak faktor penyebab gizi buruk pada anak, diantaranya dari pola asuh, asupan gizi, lingkungan, sosial, dan pola hidup ibu ketika masih hamil,” jelas Kabid Gizi Dinkes Sumenep, Kusmawati, Rabu (24/1/2018).

Kusmawati mencotohkan, salah satu kasus gizi buruk terjadi di Desa Pakandangan Sangra, Kecamatan Bluto, dimana balita yang masih berumur 20 bulan bernama Hamzah dinyatakan mengalami gizi buruk kwashiorkor. Tubuh balita itu tampak membengkak, rambutnya berwarna kuning dan mudah rontok.

“Secara mental anak cenderung rewel, mudah cengeng, dan terkadang apatis. Selain itu perkembangan pada anak lambat dan sistem sel-sel otak kurang baik sehingga mempengaruhi terhadap kecerdasannya,” jelasnya.

Oleh sebab itu, pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan terus melakukan sosialisasi dan penyuluhan, agar penderita gizi buruk di kabupaten paling ujung timur Madura ini terus menurun dan bahkan tidak ada lagi kasus semacam ini.

“Sosialisasi dan penyuluhan terus kami galakkan di daerah-daerah yang memang rawan terjadinya gizi buruk pada anak. Penanganannya sudah kita lakukan dari hulu ke hilir,” ujarnya.

Kusmawati mengkalim, berdasarkan data yang ia miliki, penderita gizi buruk di Kabupaten Sumenep sudah mengalami penurunan. Jika pada tahun 2016 lalu ada 21 penderita, di tahun 2017 turun menjadi 6 penderita gizi buruk.

Sementara Kepala UPT Puskesmas Bluto  Siti khairiyah mengungkapkan, di Kecamatan Bluto sejauh ini sudah ada tiga kasus gizi buruk yang ditangani, salah satunya yang menimpa Hamzah 18 bulan warga Desa Pakandangan Sangra Kecamatan Bluto. “Sedangkan untuk dua penderita lainnya sudah kami tangani dan sekarang sudah sembuh,” ungkapnya. (Apo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here